"Triing...triing..."suara handphone Suhendra
berdering. saat itu sedang waktunya siang di tempat kerja. begitu diangkat,
ternyata Sari dari rumah menelpon.
Suhendra : “assalaamualaikum,
ada apa bu ?”
Sari : “wa alaikum salaam. Lagi apa yah,
sibuk gak ?”
Suhendra : “biasa ditempat kerja. Memang ada berita apa
disitu?”
Sari : “wah pokoknya capek deh. Anang
kayaknya ngambek.”
Anang adalah suaminya Melati dan menantunya amih. Sedangkan amih adalah
kakak kandungnya Sari.
Suhendra : “kenapa
harus ngambek ?”
Sari :
“ceritanya panjang. Awalnya sih Melati
udah mau lahiran, Cuma kata dokter lahirannya harus di sesar. Lha kan biayanya
banyak, sedangkan Anang gak kerja. Terus katanya suruh ibu yang cari uang
pinjaman.”
Suhendra : “waah, itu tuh yang namanya dia cari penyakit. Udah tahu istri
hamil tua pasti butuh uang banyak, kenapa dia gak mau cari kerja ? apa aja kek
dulu gak usah pilih pilih. Dari awal banyak yang ngajakin kerja gak mau. Aneh,
sekarang keadaannya bagaimana ?”
Sari : “sudah lahiran sih. Alhamdulillah
ibunya sehat. Anaknya laki-laki.”
Suhendra : “lalu masalah biaya ?”
Sari :
“ya ibu cari-cari ke saudara yang lain
malem-malem buat dia. Alhamdulillah ada dari mbak Putri. kalau dirumah lagi gak
pegang uang banyak. Mbak Wulan kan biasanya punya uangnya hari sabtu, suaminya
kan bawa duitnya hari sabtu. Terpaksa ibu coba kerumah mbak Putri malem-malem.”
Suhendra : “terus
katanya alesan dia marah kenapa ?”
Sari :
“ya mungkin karena waktu dia bilang
pinjam, di rumah kita memang gak ada uang besar. Katanya gak mau bantu saudara.
Akhirnya karena ibu kasihan sama amih sebagai kakak, ya ibu usahain. Dia
ngambek sama semua saudara kita lagi. Anehkan ?”
Suhendra : “ya seharusnya Anang sebagai suami dan menantu itu mikir. Udah
diusahakan malah ngambek. Sebenarnya kita sesama saudara disini sebelumya sudah
pada ngerti kan, bisa saling bantu. Cuma mungkin kebetulan aja takdir dia saat
butuh bantuan saudara, kita lagi gak pegang uang banyak. Lagian kalau kita
minta tolong pinjam uang ke saudara itu, kita punya jaminan yaitu pekerjaan
yang menghasilkan. Bukan nganggur lantas ngandelin pinjam sana-sini. Yang punya
uang juga kalau minjamin mikir lagi kali kalau bukan saudara mah. Terus
sekarang gimana cerita disitu ?”
Sari :
“ya kita saudara-saudara disini malah
tambah benci aja sama Anang. Bukannya berterima kasih malah ngambek. Ditanya
pun gak memalingkan muka, apalagi nanya sama saudara-saudara.”
Suhendra : “ya sudahlah, anggap aja itu pelajaran bagi kita semua supaya
lebih bertambah dewasa dan bijak dalam menyikapi setiap masalah dikeluarga.
Yang penting buat kita, kalau kita benci atau marah kepada orang lain, jangan
berkepanjangan. Gak baik dan bertambah dosa kita nanti.”
Sari :
“iya yah, baik lah yah kalau begitu.
Nanti aja ceritanya kita sambung lagi kalau ayah sudah dirumah. Selamat kerja
lagi ya. Assalaamualaikum.”
Suhendra : “wa
alaikum salaam.”
Suhendra kembali melanjutkan pekerjaannya lagi. Dia berharap hari jum’at
segera tiba supaya bisa kembali pulang kerumah. Begitulah rasanya kerja pulang
seminggu sekali.
















