Rumah itu berada di pinggir jalan raya.
Situasi disekitarnya ramai, ada pasar, sekolahan, masjid agung dan lain
sebagainya. Kelihatannya sih strategis. Rumah itu satu diantara dua peninggalan
orang tua. Rumah yang satunya sudah di wasiatkan almarhum bapak untuk di
tempati oleh anaknya yang kedua dari tujuh bersaudara yang bernama Jaka.
![]() |
| Rumah warisan, by Suhendra |
Sudah sejak lama sebagian dari tujuh
bersaudara itu selalu mendesak agar rumah itu segera dijual. Padahal ibu masih
ada. Sebagian lagi besikeras agar rumah itu dipertahankan. Tujuannya adalah
tidak lain agar masih bisa dinikmati oleh ibu. Rumah itu sebagian sudah
disewakan kepada pemilik toko. Hasil sewa rumah itu dipakai oleh ibu untuk
keperluan sehari hari dan untuk biaya berobat ibu. Kini ibu sudah renta, tetapi
anak-anaknya yang rajin memperhatikan ibu ya cuma Jaka itu. Walaupun ekonominya
tergolong pas-pasan, tapi Jaka masih peduli terhadap orangtua.
Suatu hari, datanglah adik Jaka yang nomor
6, yaitu Suhendra. Dia tinggal jauh dengan kakaknya yakni di Banten, sedangkan
Jaka tinggal di bandung dengan sebagian saudaranya yang lain dan ibunya yang
sudah tua itu.
Suhendra : “kak, bagaimana kelanjutan status rumah itu
sekarang ? apakah mau dijual atau tetap dipertahan ?”
Jaka : “kalau dijual, siapa yang akan merawat dan
memberi makan ibu ? sekarang aja yang lain sudah acuh, ibu sakit atau minta
apa-apa tetap kesini juga !”
Suhendra : “kalau saya sih pasti setuju dengan
keputusan itu. Karena saya juga cuma bisa kirim uang alakadarnya untuk ibu,
kalau merawat sepenuhnya belum bisa nih. Terus siapa sih yang minta rumah itu dijual ?”
Jaka : “kalau menurut suaminya Yuyun sih pernah
mendengar suaminya Wati menawarkan rumah itu ditempat kerjanya. Kan gak lumrah.
Sementara anak-anaknya saja tidak ada kesepakatan untuk menjualnya.”
Yuyun adalah anak ibu nomor 3 dan wati
anaknya yang ke 4.
Suhendra : “kok bisa begitu ? kan yang lebih berhak
adalah anak-anaknya. Sementara dia cuma salah satu mantu.”
Jaka : “itu dia, atau skenarionya adalah dia
menawarkan rumah itu kepada orang lain. Nanti dia bujuk istrinya untuk segera
mendapat hasilnya. Setelah hasilnya dia dapat kan, dia bawa kabur uang nya dan
meninggalkan anak istrinya.”
Suhendra : “wah curang juga kalau begitu. Tidak bisa
dibiarkan. Nanti yang repot malah kita-kita juga.”
Jaka : “justru itu. Tapi itu kan cuma
praduga, semoga saja tidak demikian.”
Suhendra : “ya sudahlah kalau begitu. Yang jelas kita
pertahankan saja dulu rumah itu untuk menambah biaya mengurus ibu.”
Akhirnya mereka berdua memperbincangkan masalah
yang lain. Sambil melepas lelah perjalanan dan melepas rindu karena jarang-jarang mereka bertemu.
Itulah sepotong cerita dalam kehidupan keluarga mereka.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar