Kamis, 20 Juni 2019

Rumah Warisan


     Rumah itu berada di pinggir jalan raya. Situasi disekitarnya ramai, ada pasar, sekolahan, masjid agung dan lain sebagainya. Kelihatannya sih strategis. Rumah itu satu diantara dua peninggalan orang tua. Rumah yang satunya sudah di wasiatkan almarhum bapak untuk di tempati oleh anaknya yang kedua dari tujuh bersaudara yang bernama Jaka.
gambar ilustrasi sebuah rumah yang menjadi bahan sengketa keuarga. ceritanya rumah itu menjadi bahan rebutan para ahli waris
Rumah warisan, by Suhendra


    Sudah sejak lama sebagian dari tujuh bersaudara itu selalu mendesak agar rumah itu segera dijual. Padahal ibu masih ada. Sebagian lagi besikeras agar rumah itu dipertahankan. Tujuannya adalah tidak lain agar masih bisa dinikmati oleh ibu. Rumah itu sebagian sudah disewakan kepada pemilik toko. Hasil sewa rumah itu dipakai oleh ibu untuk keperluan sehari hari dan untuk biaya berobat ibu. Kini ibu sudah renta, tetapi anak-anaknya yang rajin memperhatikan ibu ya cuma Jaka itu. Walaupun ekonominya tergolong pas-pasan, tapi Jaka masih peduli terhadap orangtua.

     Suatu hari, datanglah adik Jaka yang nomor 6, yaitu Suhendra. Dia tinggal jauh dengan kakaknya yakni di Banten, sedangkan Jaka tinggal di bandung dengan sebagian saudaranya yang lain dan ibunya yang sudah tua itu.

Suhendra :    “kak, bagaimana kelanjutan status rumah itu sekarang ? apakah mau dijual atau tetap dipertahan ?”
Jaka        :    “kalau dijual, siapa yang akan merawat dan memberi makan ibu ? sekarang aja yang lain sudah acuh, ibu sakit atau minta apa-apa tetap kesini juga !”
Suhendra :    “kalau saya sih pasti setuju dengan keputusan itu. Karena saya juga cuma bisa kirim uang alakadarnya untuk ibu, kalau merawat sepenuhnya belum bisa nih.  Terus siapa sih yang minta rumah itu dijual ?”
Jaka         :    “kalau menurut suaminya Yuyun sih pernah mendengar suaminya Wati menawarkan rumah itu ditempat kerjanya. Kan gak lumrah. Sementara anak-anaknya saja tidak ada kesepakatan untuk menjualnya.”

     Yuyun adalah anak ibu nomor 3 dan wati anaknya yang ke 4.

Suhendra :    “kok bisa begitu ? kan yang lebih berhak adalah anak-anaknya. Sementara dia cuma salah satu mantu.”
Jaka         :    “itu dia, atau skenarionya adalah dia menawarkan rumah itu kepada orang lain. Nanti dia bujuk istrinya untuk segera mendapat hasilnya. Setelah hasilnya dia dapat kan, dia bawa kabur uang nya dan meninggalkan anak istrinya.”
Suhendra :    “wah curang juga kalau begitu. Tidak bisa dibiarkan. Nanti yang repot malah kita-kita juga.”
Jaka         :    “justru itu. Tapi itu kan cuma praduga, semoga saja tidak demikian.”
Suhendra :    “ya sudahlah kalau begitu. Yang jelas kita pertahankan saja dulu rumah itu untuk menambah biaya mengurus ibu.”

     Akhirnya mereka berdua memperbincangkan masalah yang lain. Sambil melepas lelah perjalanan dan melepas  rindu karena jarang-jarang mereka bertemu. Itulah sepotong cerita dalam kehidupan keluarga mereka.

Tidak ada komentar: