Pagi adalah musuh bebuyutanku. Setiap malam aku berjanji pada diri sendiri, "Besok aku bangun lebih awal!" Tapi kenyataannya? Aku tetap molor. Dan akibatnya? Aku selalu datang terlambat ke sekolah.
Ibuku sudah nyaris
putus asa menghadapi kebiasaanku yang satu ini. "Satria, kalau kamu telat
lagi besok, Ibu bakal ambil tindakan tegas!" ancamnya kemarin malam. Aku
hanya mengangguk malas. Ah, paling-paling cuma ceramah panjang yang sudah biasa
kudengar.
Keesokan paginya,
alarm pertamaku berbunyi tepat pukul 05.00 pagi. Aku refleks mematikan dan
membalikkan badan. Lima menit lagi, batinku. Lalu, alarm kedua berbunyi. Dengan
mata setengah tertutup, tanganku meraba-raba meja samping tempat tidur dan
mematikannya. Alarm ketiga, keempat, hingga alarm kesepuluh pun bernasib sama.
Aku melanjutkan tidur
dengan damai, hingga tiba-tiba...
"KOK KULKAS
BUNYI?!"
Aku terlompat dari
tempat tidur. Suara "tiiit tiiit tiiit" menggema dari dapur. Setengah
sadar, aku bangkit dan berjalan terseok-seok ke sana. Begitu pintu kulkas
kubuka, aku terpana. Alarmku ada di dalam kulkas! Bagaimana bisa?!
Aku baru saja ingin
mematikannya ketika suara lain terdengar dari arah ruang tamu. "Tiit tiit
tiit!" Aku berlari ke sana dan menemukan alarm lain di dalam tas
sekolahku. Aku garuk-garuk kepala. Siapa yang punya ide absurd ini?!
Aku pikir cobaan sudah
selesai, tapi ternyata tidak. Saat aku kembali ke kamar untuk mengambil
seragam, kantong bajuku bergetar dan berbunyi keras. Aku lompat ketakutan.
Alarm?! Di dalam kantong seragamku?!
Saat itulah aku sadar:
ini semua pasti kerjaan Ibu!
Aku masih bisa
mendengar tawanya dari dapur. "Kali ini Ibu menang!" katanya puas.
Aku menghela napas
panjang dan berjalan menuju kamar mandi. Baru saja aku menyalakan keran,
tiba-tiba ada suara lain yang tidak asing—tapi kali ini bukan alarm.
"Kukuruyuuuuk!"
Aku membeku. Apa itu
tadi? Aku melongok keluar kamar mandi dan hampir terjatuh saat melihat seekor
ayam tetangga berkeliaran di dalam kamarku!
"Astaga! Kok bisa
ada ayam di sini?!" Aku panik setengah mati. Ayam itu melompat ke tempat
tidurku, mematuki bantal, lalu mengepakkan sayapnya ke segala arah. Aku mencoba
mengusirnya, tapi dia malah semakin liar. Aku mundur perlahan, berusaha mencari
bantuan.
"IBUUU! ADA AYAM
DI KAMARKU!" teriakku panik.
Ibuku datang dengan
santai sambil membawa handuk.
"Oh, ayam Pak RT?
Wah, kok bisa masuk ya?" katanya dengan wajah polos. Aku menatapnya
curiga. Jangan-jangan ini bagian dari rencananya juga?
Aku mencoba menangkap
ayam itu, tapi dia lebih gesit. Ayam itu melompat ke atas meja belajar, lalu ke
lemari, dan akhirnya... menabrak kaca jendela dengan bunyi "DUAK!"
Aku dan Ibu saling
berpandangan.
"Ehm, sepertinya
dia sadar kalau ini bukan kandangnya," gumamku.
Akhirnya, dengan
bantuan Ibu, kami berhasil menangkap ayam itu dan mengembalikannya ke rumah Pak
RT. Aku kembali ke rumah dengan napas ngos-ngosan, sementara Ibu tertawa geli.
"Lihat tuh,
Satria. Alarm aja nggak mempan buat kamu. Tapi ayam tetangga? Sekali kukuruyuk
langsung bangun!" katanya sambil menepuk pundakku.
Aku hanya bisa
mendengus kesal.
Sejak hari itu, aku
mulai berpikir. Sepertinya aku memang harus mengubah kebiasaan burukku ini.
Kalau tidak, mungkin besok pagi aku bakal menemukan kambing atau bahkan sapi di
kamar!
Dan aku nggak mau itu
terjadi.
Malam harinya, aku
berusaha lebih disiplin. Aku tidur lebih awal dan menyiapkan segala sesuatu
agar pagiku lebih teratur. Aku bahkan meletakkan alarm di seberang ruangan,
jauh dari tempat tidur.
Namun, tepat pukul
lima pagi, suara "tiiit tiiit tiiit!" kembali menggema. Aku
menggeliat sebentar, lalu memaksakan diri bangun dan berjalan sempoyongan untuk
mematikan alarm. Dalam hati aku bangga, akhirnya aku menang lawan alarm!
Tapi ternyata tidak
semudah itu. Baru saja aku hendak kembali ke tempat tidur, suara alarm lain
berbunyi. Aku mencari-cari sumbernya dan menemukan alarm di bawah kasur. Sambil
mengeluh, aku mematikannya.
Namun, belum sempat
aku bernapas lega, tiba-tiba ada suara lain.
"DING DING
DING!"
Aku kaget dan menoleh
ke arah meja belajar. Jam weker yang selama ini sudah lama mati, tiba-tiba
menyala kembali dan berbunyi nyaring! Aku hampir melemparnya saking kesalnya.
Aku bergegas ke kamar
mandi untuk mencuci muka agar benar-benar terbangun. Namun saat aku membuka
pintu, aku hampir melompat ke belakang.
Di dalam kamar
mandi... ada bebek!
Aku ternganga. Seekor
bebek kuning bertengger di atas ember dan menatapku dengan tatapan polos.
"Astaga, IBUUU!
BEBEK SEKARANG?!" teriakku frustrasi.
Dari dapur, aku
mendengar suara tawa Ibu yang makin kencang.
"Hahaha! Kali ini
Ibu tambah satu level lagi, Satria! Bebek biar lebih efektif!" jawabnya
santai.
Aku mengusap wajah dan
menggeleng. Ini sudah keterlaluan!
Tapi, setelah semua
kejadian aneh ini, aku sadar satu hal. Kalau aku tidak mengubah kebiasaan
burukku, Ibu akan terus membuat jebakan-jebakan konyol seperti ini.
Malam itu, aku
benar-benar bertekad. Aku mengatur alarm secukupnya, meletakkannya di tempat
yang benar, dan tidur lebih awal.
Dan akhirnya, keesokan
harinya, untuk pertama kalinya dalam sejarah...
Aku bangun sebelum
alarm berbunyi!
Ibu terkejut melihatku
sudah rapi dan siap berangkat sekolah. "Wah, keajaiban terjadi!"
katanya sambil tertawa.
Aku hanya tersenyum
puas. Mungkin aku memang harus belajar disiplin mulai sekarang.
Dan aku harap, tidak
ada lagi ayam, bebek, atau bahkan kambing di kamarku besok pagi!







