Senin, 25 November 2019

Menantu yang ngambek


"Triing...triing..."suara handphone Suhendra berdering. saat itu sedang waktunya siang di tempat kerja. begitu diangkat, ternyata Sari dari rumah menelpon.
Suhendra      :           “assalaamualaikum, ada apa bu ?”
Sari                             :           “wa alaikum salaam. Lagi apa yah, sibuk gak ?”
Suhendra :    “biasa ditempat kerja. Memang ada berita apa disitu?”
Sari                             :           “wah pokoknya capek deh. Anang kayaknya ngambek.”
Anang adalah suaminya Melati dan menantunya amih. Sedangkan amih adalah kakak kandungnya Sari.
Suhendra      :           “kenapa harus ngambek ?”
Sari            :    “ceritanya panjang. Awalnya sih Melati udah mau lahiran, Cuma kata dokter lahirannya harus di sesar. Lha kan biayanya banyak, sedangkan Anang gak kerja. Terus katanya suruh ibu yang cari uang pinjaman.”
Suhendra :    “waah, itu tuh yang namanya dia cari penyakit. Udah tahu istri hamil tua pasti butuh uang banyak, kenapa dia gak mau cari kerja ? apa aja kek dulu gak usah pilih pilih. Dari awal banyak yang ngajakin kerja gak mau. Aneh, sekarang keadaannya bagaimana ?”
Sari                             :           “sudah lahiran sih. Alhamdulillah ibunya sehat. Anaknya laki-laki.”
Suhendra :    “lalu masalah biaya ?”
Sari            :    “ya ibu cari-cari ke saudara yang lain malem-malem buat dia. Alhamdulillah ada dari mbak Putri. kalau dirumah lagi gak pegang uang banyak. Mbak Wulan kan biasanya punya uangnya hari sabtu, suaminya kan bawa duitnya hari sabtu. Terpaksa ibu coba kerumah mbak Putri malem-malem.”
Suhendra      :           “terus katanya alesan dia marah kenapa ?”
Sari            :    “ya mungkin karena waktu dia bilang pinjam, di rumah kita memang gak ada uang besar. Katanya gak mau bantu saudara. Akhirnya karena ibu kasihan sama amih sebagai kakak, ya ibu usahain. Dia ngambek sama semua saudara kita lagi. Anehkan ?”
Suhendra : “ya seharusnya Anang sebagai suami dan menantu itu mikir. Udah diusahakan malah ngambek. Sebenarnya kita sesama saudara disini sebelumya sudah pada ngerti kan, bisa saling bantu. Cuma mungkin kebetulan aja takdir dia saat butuh bantuan saudara, kita lagi gak pegang uang banyak. Lagian kalau kita minta tolong pinjam uang ke saudara itu, kita punya jaminan yaitu pekerjaan yang menghasilkan. Bukan nganggur lantas ngandelin pinjam sana-sini. Yang punya uang juga kalau minjamin mikir lagi kali kalau bukan saudara mah. Terus sekarang gimana cerita disitu ?”
Sari            :    “ya kita saudara-saudara disini malah tambah benci aja sama Anang. Bukannya berterima kasih malah ngambek. Ditanya pun gak memalingkan muka, apalagi nanya sama saudara-saudara.”
Suhendra : “ya sudahlah, anggap aja itu pelajaran bagi kita semua supaya lebih bertambah dewasa dan bijak dalam menyikapi setiap masalah dikeluarga. Yang penting buat kita, kalau kita benci atau marah kepada orang lain, jangan berkepanjangan. Gak baik dan bertambah dosa kita nanti.”
Sari            :    “iya yah, baik lah yah kalau begitu. Nanti aja ceritanya kita sambung lagi kalau ayah sudah dirumah. Selamat kerja lagi ya. Assalaamualaikum.”
Suhendra      :           “wa alaikum salaam.”
Suhendra kembali melanjutkan pekerjaannya lagi. Dia berharap hari jum’at segera tiba supaya bisa kembali pulang kerumah. Begitulah rasanya kerja pulang seminggu sekali.