Suhendra
bekerja pada seorang teman sebagai drafter freelance di daerah Bekasi. Pemilik
tempat kerja itu namanya pak Heri. Pas mau libur lebaran belum juga menerima
gaji. Pak Heri selaku pemilik tempat kerja itu, selalu punya perasaan gak enak
terhadap rekan pekerjanya jika saat-saat gajian selalu terlambat. Tapi Suhendra
selalu bilang bahwa semua pengalaman yg kita miliki adalah takdir yg harus
dijalani.
![]() |
| Diruang kerja Suhendra |
Pekerjaan utama kita adalah membuat gambar desain gedung yang diambil dari kantor-kantor perencana di kota. Setelah pekerjaannya selesai, baru pembayarannya bisa cair. Bila pembayaran dari kantor atau perusahaan tersebut terkendala, gajianpun suka telat. Begitulah sika dukanya. Pada saat gajian kembali terlambat, pak heri agak kelihatan bimbang.
Pak Heri :
“Ndra, gimana ya,
gajian kali ini kita kembali telat.”
Suhendra : “gak apa-apa pak, habis mau bagaimana lagi?”
( Suhendra berusaha menenangkan).
Pak Heri : “saya khawatir, nanti nanti
dirumah kalian yang bermasalah, kan yang dirumah pasti gak mau tahu.”
Suhendra : “alhamdulillah sih kalau istri saya itu sudah
sangat pengertian dan sabar. Asal kitanya jujur dan apa adanya.”
Pak Heri :
“tapi saya juga gak
diam saja sih, tetap kita kejar.”
Suhendra : “begini pak, kehidupan ini sudah ada yang
mengatur, sudah takdir, kita cuma bisa berusaha, apapun bentuk usahanya, yang
diataslah yang menentukan hasilnya. Begitupun dengan yang namanya rezeki. Saya
yakin bahwa rezeki kita tidak akan tertukar dengan orang lain.”
Pak Heri : “iya sih.”
Suhendra : “saat kita menerima cobaan kondisi seperti
ini, saya selalu mengajarkan kepada istri saya untuk tidak perlu emosi, karena
emosi itu tidak akan menghasilkan solusi, malah menambah masalah.”
Pak Heri sudah mulai kelihatan agak nanar. Entah karena terharu atau sedih. Kemudian kembali Suhendra melanjutkan cerita.
Suhendra : “lagi pula nanti orang disekeliling kita
malah menjauhi kita karena kita memperlihatkan emosi. Sepertinya mereka tidak
akan betah bila melihat kita marah marah gak jelas.”
Pak Heri : “biasanya itukan cuma efek dari kekesalan
atau kekecewaan seseorang.”
Suhendra : “ya barangkali tidak ada salahnya jika kita
bersabar sedikit pak.”
Pak Heri : “ada loh orang yang mengatakan sabar itu juga
ada batasnya.”
Suhendra : “kalau menurut saya sih itu namanya ya tidak
sabar. Karena sabar itu dituntut selama kita hidup. Insya Allah buah sabar itu
sangat manis rasanya. Lebih baik selama kita mengolah sifat sabar itu hendaknya
kita tambah bumbunya yang bagus, yaitu do’a. Supaya kita bisa cepat merasakan
hasil kesabaran itu dengan maksimal.”
Pak Heri : “semoga saja semua pengalaman ini ada
hikmahnya ya !”
Suhendra : “ya
betul pak. Mari kita lanjut pekerjaan kita !”
Begitulah suasana ditempat kerja Suhendra. Karena tingkat strees yang agak tinggi dan selalu menimbulkan potensi di setiap harinya, para rekan suka saling memberikan nasehat agar suasana kerja selalu merasa adem dan menyejukkan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar