Pada lebaran kali ini Suhendra tidak
mendapatkan tunjangan hari raya atau biasa disebut THR. Karena pekerjaannya
yang kerapkali berpindah kantor pada saat belum genap setahun seperti yang di
syaratkan penerima THR. Lagi pula tempat kerja Suhendra sekarang bukanlah
kantoran yang ordernya besar. Tapi cuma bekerja di rumah temannya yang membuka
usaha freelance di bidang yang seperti biasanya, yaitu bidang desain gedung.
![]() |
| Mudik, by Suhendra. |
Pada lebaran kali ini pula bertepatan
dengan akan dilaksanakannya acara selamatan mengenang 100 hari ibu Suhendra
yang baru meninggal. Jadi sudah barang tentu banyak biaya yang harus disiapkan.
Bulan ini hanya mengandalkan pendapatan gaji saja. Tabungan sudah dikuras habis
sejak hari ibu meninggal demi membiayai pengurusan jenazah ibunya tercinta.
Pada bulan sebelumnya Suhendra berharap
akan mendapatkan THR walau tidak full. Tadinya uang tersebut akan dipakai untuk
tambahan pulang kampung. Itu sudah dibicarakan dengan istrinya dan dia sangat
senang. Karena waktu ibu Suhendra meninggal, istrinya tidak sempat ikut ke
Bandung. Jadi, istri suhendra sudah merencanakan ingin berziarah ke makam sang
mertua.
Begitu libur lebaran tiba, THRpun tidak
didapatkan. Suhendrapun memutuskan untuk tidak mudik, tetapi berkirim uang saja
untuk biaya selamatan.
Suhendra : “bu, dengan berat hati, ayah memutuskan untuk
tidak mudik kali ini. Sang istri terdiam sejenak.”
Suhendra : “kenapa
bu ?”
Sari : “tadinya
ibu sudah girang akan mudik.”
Suhendra : “lho, kan ibu tahu sendiri uangnya tidak
cukup. Dari pada dipakai buat ongkos, mendingan kita tambahkan saja untuk biaya
selamatan ibu. Nanti kita kirim sebelum lebaran”
Sari : “bisa
kali yah, ibu ada uang. Kita ngirit saja nanti disana”
Suhendra : “bu, uang itu buat biaya hidup kita selama
satu bulan kedepan. Kalau habis dikampung, kita makan apa ketika nanti pulang
kemari. Kalaupun ngirit, emang saudara yang lain akan kita hiraukan gituh ? gak
mungkin lah, ini lebaran lho.”
Sari : “terus,
kapan dong kita ziarahnya ?”
Suhendra : “nanti, jika Allah
sudah mengizinkan, kita sekeluarga pasti akan bisa kesana. Sekarang ibu berdo’a
saja dulu dan bersabar ya!”
Secara normal,
seharusnya anaknya yang ngebet untuk segera pulang kampung. bukan menantunya.
Tapi itu semua menunjukkan bahwa betapa sayangnya sang menantu terhadap sang
mertua yang tidak merasa puas untuk membahagiakan mertuanya di penghujung
hayatnya. Semoga Allahpun membalas semua ketulusannya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar