Kamis, 20 Juni 2019

Istri minta mudik


     Pada lebaran kali ini Suhendra tidak mendapatkan tunjangan hari raya atau biasa disebut THR. Karena pekerjaannya yang kerapkali berpindah kantor pada saat belum genap setahun seperti yang di syaratkan penerima THR. Lagi pula tempat kerja Suhendra sekarang bukanlah kantoran yang ordernya besar. Tapi cuma bekerja di rumah temannya yang membuka usaha freelance di bidang yang seperti biasanya, yaitu bidang desain gedung.
ilustrasi didalam sebuah perjalanan ketika musim mudik tahunan telah tiba. berbagai kendaraanpun turut digunakan
Mudik, by Suhendra.




       Pada lebaran kali ini pula bertepatan dengan akan dilaksanakannya acara selamatan mengenang 100 hari ibu Suhendra yang baru meninggal. Jadi sudah barang tentu banyak biaya yang harus disiapkan. Bulan ini hanya mengandalkan pendapatan gaji saja. Tabungan sudah dikuras habis sejak hari ibu meninggal demi membiayai pengurusan jenazah ibunya tercinta.

       Pada bulan sebelumnya Suhendra berharap akan mendapatkan THR walau tidak full. Tadinya uang tersebut akan dipakai untuk tambahan pulang kampung. Itu sudah dibicarakan dengan istrinya dan dia sangat senang. Karena waktu ibu Suhendra meninggal, istrinya tidak sempat ikut ke Bandung. Jadi, istri suhendra sudah merencanakan ingin berziarah ke makam sang mertua.

      Begitu libur lebaran tiba, THRpun tidak didapatkan. Suhendrapun memutuskan untuk tidak mudik, tetapi berkirim uang saja untuk biaya selamatan.

Suhendra :    “bu, dengan berat hati, ayah memutuskan untuk tidak mudik kali ini. Sang istri terdiam sejenak.”
Suhendra :    “kenapa bu ?”
Sari          :    “tadinya ibu sudah girang akan mudik.”
Suhendra :    “lho, kan ibu tahu sendiri uangnya tidak cukup. Dari pada dipakai buat ongkos, mendingan kita tambahkan saja untuk biaya selamatan ibu. Nanti kita kirim sebelum lebaran”
Sari          :    “bisa kali yah, ibu ada uang. Kita ngirit saja nanti disana”
Suhendra :   “bu, uang itu buat biaya hidup kita selama satu bulan kedepan. Kalau habis dikampung, kita makan apa ketika nanti pulang kemari. Kalaupun ngirit, emang saudara yang lain akan kita hiraukan gituh ? gak mungkin lah, ini lebaran lho.”
Sari          :    “terus, kapan dong kita ziarahnya ?”
Suhendra :    “nanti, jika Allah sudah mengizinkan, kita sekeluarga pasti akan bisa kesana. Sekarang ibu berdo’a saja dulu dan bersabar ya!”

  Secara normal, seharusnya anaknya yang ngebet untuk segera pulang kampung. bukan menantunya. Tapi itu semua menunjukkan bahwa betapa sayangnya sang menantu terhadap sang mertua yang tidak merasa puas untuk membahagiakan mertuanya di penghujung hayatnya. Semoga Allahpun membalas semua ketulusannya.


Tidak ada komentar: