Senin pagi. Matahari
sudah tinggi, burung-burung berkicau, dan di kelas XI IPA 2, suasana masih
damai. Sampai tiba-tiba...
"RAKAAA! Lu udah
ngerjain PR Matematika?!" suara Aldi memecah ketenangan kelas.
Raka yang lagi asyik
menggambar doodle di bukunya langsung tersedak. "Hah?! PR?
Matematika?!"
Aldi menghela napas panjang, "PR yang dikasih Pak Budi minggu lalu, bro! Yang lima belas soal itu! Dikumpulin pas bel masuk!"
Raka langsung keringat
dingin. LIMA BELAS SOAL? DALAM WAKTU SEPULUH MENIT?!
Matanya melotot
melihat teman-temannya yang asyik mengecek PR mereka. Beberapa sibuk menyalin
dari teman lain, sementara sebagian besar sudah siap mengumpulkan. Raka? Bahkan
buku tulisnya masih kosong.
“Gawat, gue lupa
total!”
Aldi menggeleng.
"Gue juga, sih. Tapi gue nyalin dari Rina tadi pagi."
Raka langsung menoleh
ke Rina, cewek pintar di kelas. “Rinaaa, pinjam PR-nya dong. Gue janji nggak
bakal lama!”
Rina mendesah.
"Raka, gue udah kasih ke Aldi, ke Doni, ke Putri… kalau ketahuan Pak Budi,
gue bisa kena masalah."
Raka mengerang putus
asa. Demi nilai Matematika, gue harus bertindak cepat.
Plan A: Menyalin
dari Aldi
Raka menyambar buku
Aldi dan mulai menyalin dengan tergesa-gesa. Tapi baru nulis dua soal, bel
tanda masuk berbunyi. LIMA MENIT LAGI!
“Udah, Rak?” tanya
Aldi.
“Belum! Masih tiga
belas soal lagi!”
Aldi hanya bisa
menatapnya dengan iba.
Raka berusaha menulis
secepat kilat, tapi tangannya gemetar karena panik. Huruf-hurufnya jadi
berantakan, malah lebih mirip cakar ayam. Dia bahkan salah tulis angka,
menjadikan 3+2=9.
“Yah, kacau!”
keluhnya.
Di sampingnya, Putri
yang juga sedang menyalin tiba-tiba menjerit, “Aduh! Gue malah nyalin nama Rina
di halaman depan buku gue!”
Semua orang menoleh
dan tertawa, tapi Raka tak sempat menikmati humor itu. Waktu semakin mepet.
Plan B: Mode Dewa,
Hitung Pakai Insting
Raka menatap soal-soal
yang belum terisi. Matanya berpindah dari angka ke angka, berharap otaknya
tiba-tiba jenius. Soal pertama, X + Y = Z. Soal kedua, sin 30° =...?
“Aduh, ini soal apaan
sih?”
Akhirnya, dia mulai
menulis asal:
Soal 1: Jawaban: Tuhan maha tahu, saya tidak.
Soal 2: Jawaban: Hidup itu seperti sin 30°, terkadang
naik, terkadang turun.
Soal 3: Jawaban: Mungkin jawabannya 42? (terinspirasi
dari film science-fiction)
Dia menambahkan
beberapa gambar stickman untuk mempermanis jawaban, berharap bisa menghibur Pak
Budi dan mendapat sedikit poin tambahan.
Di tengah kepanikan,
tiba-tiba ide ‘jenius’ muncul. Apa kalau tulisannya super kecil, Pak Budi
malas baca?
Mulailah Raka menulis
seperti semut. Huruf-hurufnya makin lama makin mengecil sampai nyaris tak
terbaca. Strategi kamuflase!
Tapi kemudian dia
sadar, kalau Pak Budi pakai kacamata pembesar, tamat sudah.
Plan C: Jalur Nekat
- Sogokan ke Doni
Sisa dua menit. Panik,
Raka melirik Doni yang duduk di belakangnya. Doni terkenal dengan PR instannya.
“Don, 10 ribu buat PR
lu!” bisiknya.
Doni mengangkat alis.
“15 ribu.”
“Deal!” Raka langsung
menyerahkan uang, tapi tepat saat Doni mau memberi buku, suara berat terdengar.
“Apa yang sedang
kalian lakukan?”
Pak Budi.
Mereka membeku.
“Pak! Saya cuma
mengajari Raka soal Matematika, Pak!” kata Doni, mencoba terlihat polos.
Pak Budi menatap
mereka lama, lalu mengulurkan tangannya. “PR kalian.”
Raka gemetar
menyerahkan bukunya yang masih penuh dengan jawaban ngasal. Sementara Doni juga
pasrah.
Pak Budi membuka satu
per satu lembaran. Saat membaca jawaban Raka, wajahnya tanpa ekspresi.
“Hidup itu seperti
sin 30°, terkadang naik, terkadang turun”?
Kelas hening.
Pak Budi akhirnya
tertawa.
“Raka, Raka... Ini PR
paling kreatif yang pernah saya baca.”
Semua teman-teman
mulai terkikik. Raka tersenyum kecut.
“Karena kreativitasmu,
saya kasih nilai 50. Itu udah bonus besar,” kata Pak Budi.
Raka langsung mengeluh
dalam hati. Setidaknya bukan nol.
Twist: Karma Itu
Nyata
Saat jam istirahat,
Raka merasa lapar dan berencana membeli bakso. Tapi pas buka dompetnya... kosong.
“Aldi, duit gue
mana?!”
Aldi tertawa, “Lah,
tadi buat bayar Doni, kan?”
Raka baru sadar. Duit
buat makan siang gue dipakai buat beli PR… yang tetap dapet nilai jelek!
Doni malah menikmati
bakso dengan santai. “Enak banget nih baksonya. Thanks ya, Rak!”
Raka hanya bisa
mengelus dada. “Fix, besok gue kerjain PR sendiri.”
Di sudut kantin, Pak
Budi tersenyum kecil sambil menikmati bakso. “Semoga besok kamu ingat untuk
mengerjakan PR-mu sendiri, ya, Raka.”
Tapi sepertinya Pak
Budi tahu lebih dari yang terlihat. Saat ia beranjak pergi, Raka melihat ada
secarik kertas terselip di bawah mangkuk bakso Pak Budi. Rasa penasaran
menyelimutinya, tapi sebelum sempat mengambil, Pak Budi sudah berjalan keluar.
“Eh, tadi gue lihat
Pak Budi keluar dari kantin sambil senyum-senyum. Jangan-jangan beliau juga
beli PR dari Doni?” bisik Aldi.
Raka terdiam.
Kalau benar begitu,
berarti… misi menyontek ini bukan hanya sekadar masalah kecil, tapi
konspirasi besar!
Nasihat untuk
Remaja:
Mungkin kelihatannya
sepele, tapi kebiasaan menunda pekerjaan bisa bikin stres sendiri. Daripada
panik di menit terakhir, lebih baik selesaikan tugas lebih awal. Bukan cuma
nilai yang penting, tapi juga tanggung jawab dan disiplin.
Jadi, siapa nih yang
masih suka mengerjakan PR mepet deadline? 😆 Jangan sampai nasibnya kayak Raka ya!
Dan satu hal lagi…
Kalau suatu hari kamu
melihat guru tersenyum misterius di kantin, coba pikir-pikir lagi… siapa tahu
mereka juga punya ‘sumber’ PR sendiri. 😏










