Farel punya kebiasaan buruk: kecanduan main HP di kelas. Sudah berkali-kali Bu Rina—alias “Guru Killer”—memperingatkannya, tapi Farel tetap tak kapok. Hingga suatu hari, nasib buruk menimpanya.
Saat sedang asyik main
game di bawah meja, tiba-tiba bayangan mengerikan muncul di sampingnya. Dengan
tatapan tajam bak laser, Bu Rina berdiri sambil menyilangkan tangan. “Serahkan
HP-mu sekarang, Farel.”
“Bu, saya cuma lihat
jam…”
“Jangan ngeles. HP ini
disita selama seminggu!”
Dan begitulah, HP
kesayangannya melayang ke dalam genggaman sang Guru Killer.
Tak mau menyerah
begitu saja, Farel dan gengnya—Dika, Sari, dan Joni—menyusun rencana
penyelamatan ala agen rahasia.
Operasi Pengambilan
Kembali HP
Target: Ruang Guru.
Waktu Eksekusi: Saat
istirahat kedua.
Metode: Menyelinap dan
menyamar.
Sari bertugas sebagai
pengalih perhatian, pura-pura meminta tanda tangan untuk kegiatan sekolah. Dika
dan Joni berjaga di luar untuk memantau keadaan. Sementara Farel, sang
eksekutor utama, masuk ke ruang guru dengan langkah hati-hati.
Mereka mempersiapkan
semua dengan matang. Dika bahkan membuat peta sketsa ruang guru berdasarkan
ingatan mereka. “Di sini lemari tempat HP disimpan,” katanya, menunjuk gambar
kotak dengan tulisan ‘harta karun’ di atasnya. “Dan di sini biasanya kepala sekolah
duduk.”
“Tapi gimana kalau ada
guru lain di dalam?” tanya Joni.
Farel berpikir
sejenak. “Kita improvisasi saja.”
Saat istirahat kedua
tiba, mereka pun beraksi.
Sari, yang terkenal
jago akting, masuk lebih dulu. “Permisi, Bu. Saya butuh tanda tangan untuk
surat izin lomba,” katanya dengan wajah penuh kepolosan.
Bu Rina, meskipun
dikenal galak, tetaplah seorang guru yang peduli pada prestasi muridnya. “Oh,
lomba apa ini?” tanyanya sambil mengambil pulpen.
Sementara Bu Rina
sibuk membaca surat, Farel menyelinap masuk. Dengan jantung berdebar, ia
berjalan mengendap-endap ke lemari penyimpanan. Ia membuka pintu lemari dengan
sangat pelan, berusaha tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun.
“Posisi aman…” bisik
Farel melalui headset rakitan Dika yang ternyata cuma tali sepatu ditempel di
telinga.
Di dalam lemari, ada
beberapa HP yang disita. Dengan mata jelalatan, Farel mencari miliknya. “HP-ku
warna biru, ada stiker Spiderman…” gumamnya.
Ia mengambil salah
satu HP yang terlihat mirip. Berhasil! Dengan langkah cepat, ia keluar dari
ruang guru.
Namun, ketika mereka
memeriksa HP itu, wajah mereka langsung pucat.
HP yang mereka ambil
bukan milik Farel.
Tapi milik kepala
sekolah.
“MATI KITA!!!” seru
Joni panik.
Keadaan makin kacau
saat kepala sekolah lewat dan meraba saku jasnya. “Aneh, HP saya di mana ya?”
Dika buru-buru
menyelipkan HP itu ke meja guru sebelum ketahuan. Untungnya, mereka berhasil
kabur tepat waktu.
Namun, masalah belum
selesai.
Keesokan harinya,
ketika Farel datang ke sekolah, ia mendengar gosip bahwa kepala sekolah sedang
mencari siapa yang berani-beraninya mengambil HP-nya. “Siapapun yang
melakukannya harus segera mengaku sebelum saya menyelidiki lebih jauh!” kata
kepala sekolah dengan suara tegas di depan para guru.
Farel langsung panik.
“Gimana ini? Kalau ketahuan, habislah kita!”
“Kita butuh rencana
lain,” kata Dika serius.
Mereka memutuskan
untuk diam-diam menukar kembali HP Farel dengan yang seharusnya. Saat jam
pelajaran kosong, mereka menyelinap lagi ke ruang guru. Kali ini, mereka lebih
berhati-hati.
Namun, saat Farel
membuka lemari, suara langkah kaki mendekat.
“Cepat, ada yang
datang!” bisik Sari.
Farel buru-buru
meletakkan HP kepala sekolah di tempatnya dan mengambil HP-nya sendiri. Baru
saja ia hendak menutup lemari, pintu ruang guru terbuka!
Bu Rina masuk dan
melihat mereka. “Kalian ngapain di sini?”
Mereka langsung
berpikir cepat. “Eh, anu, Bu… kami tadi mau mengantarkan laporan kelas…” Sari
buru-buru menyodorkan selembar kertas kosong yang kebetulan ia pegang.
Bu Rina menyipitkan
mata. Tapi sebelum ia sempat berkata apa-apa, bel masuk berbunyi. “Sudah, cepat
kembali ke kelas!” katanya.
Mereka langsung kabur
dengan keringat dingin. Misi sukses!
Namun, mereka tidak
menyadari satu hal. HP yang Farel ambil… ternyata masih HP kepala sekolah!
Entah bagaimana, ia kembali salah ambil!
“KITA MASIH DALAM
MASALAH!” Farel hampir menjerit.
Kali ini, mereka harus
memikirkan rencana yang lebih rapi. Dengan segala keberanian, mereka memutuskan
untuk mendekati Pak Budi, penjaga sekolah, untuk membantu mereka masuk tanpa
ketahuan.
Pak Budi yang awalnya
curiga akhirnya mau membantu setelah Sari mengatakan bahwa ini demi
menyelamatkan “barang pribadi penting”. Malam itu, mereka menyelinap lagi ke
sekolah setelah jam pelajaran usai.
Dengan senter kecil,
mereka merayap di lorong gelap menuju ruang guru. Pintu terkunci.
“Tinggal satu cara…”
Joni mengeluarkan kawat kecil. “Aku nonton cara membuka kunci di YouTube
semalam.”
“JANGAN GILA!” bisik
Dika. “Itu bisa dihukum berat!”
Tapi sebelum mereka
mencari cara lain, suara langkah mendekat. Mereka buru-buru bersembunyi di
balik meja.
Kepala sekolah masuk.
Ia menghela napas, lalu menelepon seseorang. “Iya, HP saya belum ditemukan…
mungkin ada yang mengambilnya untuk iseng…”
Farel dan yang lain
menahan napas.
Setelah kepala sekolah
keluar, mereka segera menyelinap ke lemari, menukar kembali HP yang benar, lalu
kabur sekencang mungkin.
Keesokan harinya,
Farel akhirnya mendapatkan HP-nya kembali dengan cara yang benar.
“Terlalu banyak main
HP di kelas cuma bikin hidup ribet,” gumamnya. “Dan nyawa melayang kalau sampai
kena Guru Killer.”
Ia pun berjanji pada
diri sendiri: HP hanya untuk waktu yang tepat. Tidak di kelas. Dan, yang paling
penting, tidak ada lagi misi penyelamatan yang berisiko bikin mereka
dikeluarkan dari sekolah!












